Penerima Beasiswa Bidik Misi Harus Tanda Tangani Pernyataan

Bandung, UPI

Mahasiswa Universitas Pendidikan Indonesia yang diterima melalui jalur undangan bidik misi haruslah mereka yang benar-benar berprestasi secara akademik, dan secara finansial tidak mampu membiayai kuliah. Mahasiswa yang diterima melalui jalur bidik misi ini harus menandatangani surat pernyataan bermeterai bahwa mereka tidak mampu.

“Kalau di kemudian hari diketahui berbohong, mereka harus menerima konsekuensi dikeluarkan dari kampus,” kata Pembantu Rektor Bidang Akademik dan Kerja Sama Luar Negeri Prof. H. Furqon, Ph.D. dalam rapat merumuskan kriteria miskin bagi penerima beasiswa bidik misi di Kampus UPI Jln. Setiabudhi No. 229 Bandung, Selasa (31/5/2011).

Rapat juga dihadiri Pembantu Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kemitraan Prof. Dr. Dadang Sunendar, M.Hum; Direktur Akademik Prof. Dr. Tjutju Yuniarsih, M.Pd.; Direktur Kemahasiswaan Dr. Cecep Darmawan, M.Si.; Kepala Humas Dr. H. Suwatno. M.Si.; Kepala Divisi Rekrutmen Mahasiswa Baru Dr. Asep Supriatna; dan anggota tim verifikasi bagi mahasiswa bidik misi.

Menurut Prof. Furqon, sebagian perguruan tinggi hanya membutuhkan surat pernyataan dari calon mahasiswa yang dibubuhi meterai bahwa mereka tidak mampu secara finansial. Sebagian kampus melakukan visitasi dan mengecek kebenaran data yang diberikan calon mahasiswa.

“Bagi UPI, dua cara itu ditempuh. Selain harus menandatangani pernyataan bahwa mereka tidak mampu membiayai kuliah, tim kami juga melakukan verifikasi dengan melakukan kunjungan ke rumah calon mahasiswa tersebut,” kata Prof. Furqon.

Dikatakan, merumuskan kriteria “miskin” sangat kompleks dan memerlukan perdebatan panjang. Oleh karena itu, ia berpesan kepada tim verifikasi untuk bersikap tegas sekaligus luwes. Dalam arti, tim verifikasi tidak menoleransi terjadinya kebohongan, namun luwes dalam mendefinisikan kemiskinan.

“Orang tua siswa dengan gaji Rp 5 juta bisa disebut kaya, namun jika yang harus ditanggu 10 anak, tentu lain ceritanya,” ujar Prof. Furqon.

Namun secara umum, berbagai kriteria yang dapat digunakan sebagai parameter antara lain, listrik, air, telefon, jumlah tanggungan orang tua, penerangan, MCK, kepemilikan rumah dan tanah, jumlah penghuni rumah, pendidikan orang tua, bahan bakar, dan sebagainya.

Asep Supriatna, Kepala Divisi Rekrutmen Mahasiswa UPI menjelaskan, di masa lalu, tim melakukan verifikasi dan visitasi melalui meta data. Artinya, tim verifikasi melakukan penelitian calon mahasiswa layaknya mata-mata. Kalau perlu, tim mencari data tentang calon mahasiswa tersebut dari tetangganya.

“Namun karena sekarang mahasiswa bidik misi sudah diterima, kita mengecek langsung ke rumahnya, jauh sekalipun. Yang pasti, kalau ketahuan mahasiwa tersebut berbohong, maka mereka harus bersiap-siap menerima sanksi,” ujar Asep Supriatna. (WAS)

Posted by humas on 6/01/11 • Categorized as Lain-Lain

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s